Rabu, 14 Januari 2015

Blackhat

Duel Hacker Internasional di Jakarta




Film Aksi Thriller karya Michael Mann produksi 2014. Produksi Legendary Pictures-Forward Pass, Distribusi oleh Universal Pictures, bujet produksi USD 80 juta dengan durasi 133 menit.


Sinopsis Gue :


Bersetting dunia kriminal cyberspace, dimana dawali dengan reaktor nuklir Tiongkok yang dibobol sehingga terjadi kebocoran reaktor nuklir yang membuat pemerintah Tiongkok memberikan perhatian penuh dalam menangani terorisme tersebut. Chen Dawai (Wang Leehom), polisi khusus cybercrime ditugaskan untuk memecahkan masalah tersebut. Chen dibantu oleh sang adik Chen Lien (Wei Tang) dalam menelusuri jalur peretas tersebut. Belum pula dapat ditemukan pola, terjadi kerusuhan dalam penjualan komoditi kedelai di perdagangan saham sehingga harga tok komoditi kedelai menjadi membumbung tinggi diatas harga wajar. Chen Dawai memastikan bahwa itu merupakan ulas peretas yang sama. Chen Dawai dan Chen Lien terbang ke New York untuk memecahkan masalah tersebut. Chen Dawai meminta agar pemerintah Amerika dapat membebaskan sementara peretas tangguh bernama Nicholas Hathaway (Chris Hemsworth) untuk dapat bekerja sama. Awalnya agak sulit karena Hathaway dipenjara dengan keamanan maksimum karena meretas satu bank dengan kerugian USD 50juta. Namun Chen Dawai mendesak dengan menyatakan bahwa bahasa pemrogaraman yang dilakukan untuk meretas Reaktor Nuklir dan Perdagangan Saham tersebut berasal dari bahasa pemrograman gubahan Chen Dawai dan Hathaway saat mereka masih kuliah di MIT dulu. 

Dengan dikawal oleh Carol Berrett (Viola Davis) dan Mark Jessup (Holt McCallany), Hathaway bahu membahu bersama Chen Dawai dan Chen Lien dalam memburu peretas tersebut. Perjalanan antar negara dan saling retas ke institusi NSA Amerika menjadi aktifitas mereka juga pengejaran peretas tersbeut ke beberapa negara hingga final duel antara Hathaway dan Sadak sang peretas (Yorick van Wageningen) yang terjadi di Jakarta !


Review Gue:

Michael Mann memiliki gaya layaknya Sam Peckinpah abad 20 yang memiliki ciri yang sangat khas dalam menggarap film. Penuturan dengan karakter yang pelan, close up yang kadang dikaburkan dan speed zoom in kepada tiap tokoh utama maupun pendukung seolah mempertegas karakter dari masing-masing tokoh film selalu menjadi ciri khas Michael Mann, sama seperti John Woo dengan ciri khas nya yaitu merpati yang mengepak slow motion sebelum adanya duel final.

Secara cerita, Blackhat merupakan cerita 'terlemah' yang pernah digarap oleh Michael Mann. Tema cybercrime yang dipilih terlalu menghujam pada teknis cyber itu sendiri sehingga bagi orang yang awam dengan dunia komputer dan hacking (peretasan) membutuhkan ekstra perhatian di film ini. Namun juga bagi para penggemar komputer dan peretas, film ini tidak tergali secara dalam sehingga malah terkesan memaksakan. Beberapa anekdot khas peretas hanya bisa dinikmati oleh penonton yang mengerti tentang dunia komputer. 

Namun Mann memiliki kekuatan lain dalam bercerita. Alurnya yang lambat dan kadang menyentak tiba-tiba kemudian melambat lagi merupakan suatu keasyikan sendiri. Berbeda dengan Ridley Scott  yang senantiasa berdentam sejak awal pertunjukan ataupun Martin Scorsese yang melangut namun tragis, Mann berada diantara mereka. Tiap karakter menjadi lebih 'dihargai' dengan segala pemakluman sifatnya. Chris Hemworth beruntung diarahkan oleh Mann sehingga penokohan sang jagoan Thor bisa lepas dari dirinya. Wang Leehom dan Wei Tang nampak mampu mengimbangi Chris sepanjang film tersebut karena Mann memberikan 'perimbangan' kepada mereka, demikian juga dengan Viola Davis dan Holt McCallany.

Yang menarik dari film ini adalah Mann mengambil resiko dengan menutup film ini dengan adegan duel yang dilakukan di Lapangan Banteng, Jakarta, Indonesia !

Memang sih, stereotip Hollywood masih melekat bahwa Jakarta Indonesia digambarkan kumuh dan padat penduduk, stereotip yang sama terhadap Philipina, Thailand dan Malaysia. Namun cukup terbayar rasanya bahwa Mann mau membuat adegan final di Jakarta lengkap dengan pertunjukan ogoh-ogoh dengan mengerahkan penari massal. 

Mungkin saja era epik karya Mann seperti The Last of The Mohicans dan Heat sudah berakhir, namun bagaimanapun juga Mann masih berusaha menorehkan karyanya dan mengangkat nama Jakarta, Indonesia tetap dengan ciri khas Michael Mann yang pertama dikenal dunia dengan serial televisi Miami Vice nya.


Film ini gue rating 3,5 bintang dari 5 bintang...

Keep Rolling... Selamat Menikmati... Have a Great Watch...!!!
 

Senin, 12 Januari 2015

Night at the Museum: Secret of the Tomb

Patung Lilin yang Berkelana ke Inggris




Merupakan sekuel ketiga trilogi Night at the Museum yang juga merupakan final installment. Sutradara oleh Shawn Levy, produksi 21Laps Entertainment-1492 Pictures, distribusi oleh 20th Century Fox. Bujet produksi USD 127 juta.


Sinopsis Gue :

Tahun 1938, kelompok arkeologis dari berbagai negara berhasil menemukan makam Firaun dan tablet Akhmenrah. Oleh penduduk lokal para arkeologis diperingatkan bahwa tablet tersebut berbunyi "Masa akhir akan tiba", namun karena kepentingan sejarah, artefak tersebut tetap diangkat dan dibawa ke Amerika dan Eropa.  Pada masa sekarang, 'kesaktian' tablet tersebut dimanfaatkan oleh Larry Daley (Ben Stiller) untuk membuat presentasi berkesan dihadapan Dr. Mc Phee (Ricky Gervais), namun ternyata tablet tersebut mulai mengalami perkaratan sehingga artefak yang hidup setiap malam tersebut menjadi bertingkah aneh dan mengacaukan acara presentasi tersebut. Terancam dengan situasi museum yang dianggap membahayakan, Larry memperoleh informasi bahwa yang dapat mengetahui rahasia tablet tersebut adalah ayah dari Akhmenrah, namun berada di Inggris. 

Demi menyelamatkan tablet tersebut, maka Larry, Akhmenrah (Rami Malek), Thodore Roosevelt (Robin WIlliams), Jedediah (Owen Wilson), Octavius (Steve Coogan), Atilla the Hun (Patrick Gallagher), Nicky (Skyler Gisondo) dan Sacagawea (Mizuo Peck) berangkat ke Inggris untuk memulihkan kondisi tablet yang tergerus karat agar bisa kembali seperti sediakala. Di Inggris mereka dibantu oleh Sir Lancelot (Dan Stevens) yang menjadi pengawal untuk sampai ke tempat ayah Akhmenrah yaitu Merenkahre (Ben Kingsley). Perjalanan mereka untuk memulihkan tablet tersebut tidaklah mudah dan diselingi dengan adanya pengkhianatan dari artefak tersebut demi kepentingan pribadi.


Review Gue :

Nampak sekali ini merupakan 'film perpisahan' dari sekuel Night at the Museum. Ternyata adegan perpisahan tersebut benar-benar merupakan film 'pamitan' dari Robin Williams yang wafat sebelum film ini diluncurkan. Film ini juga merupakan film terakhir yang dibintangi oleh Mickey Rooney yang wafat juga sebelum film ini dirilis.

Tidak nampak hal yang baru dalam film ini, sedikit menggelitik adalah ketika Jadediah dan Octavius asyik menonton YouTube dan memberikan komentar online nya dengan bantuan peralatan ala periode mereka. Tak lupa mereka pun paham akan 'selfie' untuk menunjukkan mereka selamat setelah 'hilang' di museum London.

Film ini memang semata dibuat untuk hiburan tanpa maksud menggurui tentang sejarah atau karakter apapun, sehingga bisa dinikmati tanpa membuat dahi berkerut dan ringan saat film ini selesai. Melihat Robin Williams memberikan wejangan singkat sebelum menjadi patung lilin nampak aura perpisahan yang terjadi, walaupun di bagian ending masih ada beberapa kejutan kecil yang menyenangkan, tapi 'tanda-tanda' kepergian Robin menjadi serasa nampak. Secara mutu cerita dan penggarapan, Night at the Museum 2: Battle of the Smithsonian (2009) masih lebih baik dibanding film ini.  Namun tetap tingkah laku para patung lilin yang hidup masih bisa membuat kita tersenyum. 

Film ini gue rating 2,5 bintang dari 5 bintang...

Keep Rolling... Selamat Menikmati... Have a Great Watch... !!!
  


 

Selasa, 23 Desember 2014

Paddington

Petualangan Teddy Bear-nya Inggris



Merupakan film Inggris debutan sutradara Paul King yang diadaptasi dari buku seri berjudul Paddington Bear karya Michael Bond. Produser oleh David Heyman. Produksi Heyday Films-Studio Canal dengan distribusi oleh Studio Canal. Film dengan durasi 95 menit ini berbujet USD 50 juta.


Sinopsis Gue :

Di suatu tempat di tengah hutan belantara di Peru, terdapatlah suatu kelompok beruang yang memiliki intelejensia diatas rata-rata hewan sejenisnya. Sang pengelana yang bernama Motgomery Clyde terkesan dengan kelompok beruang tersebut dan mengajak mereka untuk ikut ke Inggris, namun Pastuzo (Michael Gambon) dan Lucy (Simon Farnaby) memilih tetap di hutan. Hingga suatu saat terjadi gempa dahsyat yang mengguncang hutan tersebut. Pastuzo hilang tak tentu rimbanya, hanya topi merahnya saja yang tertinggal. Adapun sang keponakan diminta oleh Lucy untuk pergi ke Inggris agar bisa tinggal dengan Montgomery Clyde. Perjalanan yang dilakukan sang keponakan tidak semudah yang dibayangkan. Di sebuah stasiun, ia terdampar dan ditemukan oleh keluarga Brown. Oleh keluarga Brown, beruang kecil tersebut diberi nama Paddington (Ben Whishaw), sesuai dengan nama stasiun kereta tempat beruang itu ditemukan.  Henry Brown (Hugh Bonneville) bersikeras bahwa Paddington hanya boleh tinggal sementara saja sambil melacak keberadaan Montgomery. Berbagai keingintahuan dan keusilan Paddington sering membuat Henry marah dan rumah menjadi sering berantakan.

Sementara itu terdapatlah seorang pengawet hewan bernama Millicent (Nicole Kidman) yang menemukan bahwa terdapat bahwa Paddington merupakan spesies langka yang harus dimiliki sebagai koleksi museumnya. Maka dimulailah perburuan Millicent untuk memiliki Paddington beserta seluruh daya upayanya yang licik agar Paddington bisa menjadi koleksi museumnya.


Review Gue :

Diangkat dari buku karya Michael Bond yang telah menulis tentang Paddington Bear sejak tahun 1958, tokoh ini merupakan kesayangan anak-anak di daratan Inggris Raya. Mungkin dapat dianalogikan dengan Winnie The Pooh ataupun Teddy Bear yang terdapat di Amerika Serikat. Sesuai dengan khazanah Film Inggris, film ini berjalan lembut tanpa banyak lonjakan-lonjakan, humornya pun lebih halus sehingga film ini memang ditujukan untuk anak-anak walaupun terdapat 'kenakalan' yang agak berlebihan. Tidak akan ditemui humor sarkas dan slapstik kasar seperti halnya film Ted  (2012). Untuk Nicole Kidman, ini merupakan peran kedua ia berperan jahat setelah sebelumnya berperan jahat di film Golden Compass (2007). Paddington sendiri dibuat secara full CGI tanpa menggunakan boneka. David Heyman sebelumnya telah dikenal menggawangi franchise Harry Potter sehingga cukup paham bagaimana membuat film dengan tema keluarga.

Film ini gue rating 3 bintang dari 5 bintang...

Keep Rolling... Selamat Menikmati... Have a Great Watch...!!!

Exodus: Gods and Kings

Moses versi Bale dan Scott




Sebuah film kolosal yang diinspirasi dari Bible karya sutradara Ridley Scott. Produser oleh Peter Chernin dan Ridley Scott. Produksi Chernin Entertainment-Scott Free Productions-Babieka-Volcano Films. Distribusi oleh 20th Century Fox, rentang waktu putar 150 menit dengan bujet USD 140 juta.


Sinopsis Gue :

Tahun 1300 Sebelum Masehi, Moses (Christian Bale) yang diangkat menjadi Jendral oleh Raja Seti I (John Turturro) berangkat ke medan perang bertempur melawan tentara Hittite. Dengan ditemani oleh Pengeran Ramses (Joel Edgerton) pertempuran tersebut dapat dimenangkan oleh bangsa Mesir pimpinan Jendral Moses. Namun ada yang cukup mengganggu  mereka karena sebelumnya telah diramalkan bahwa akan ada salah satu dari mereka yang terancam nyawanya, dan barangsiapa yang menyelamatkan maka dia yang akan menjadi pemimpin suatu bangsa. Moses menyelamatkan Ramses dari ancaman kematian serbuan tentara Hittite dan itu membuat Ramses gundah. Setelah Seti I wafat, maka Ramses diangkat menjadi Firaun dengan gelar Ramses II. Datanglah Hegep (Ben Mendelsohn) yang membisikkan Ramses bahwa Moses adalah anak Ibrani  yang seharusnya dibunuh sewaktu bayi karena akan mengancam tahta kerajaan Firaun. Hal tersebut membuat Moses dibuang dan diasingkan atas persetujuan Tuya (Sigourney Weaver) sang Ibu. 

Dalam pembuangannya, Moses terdampar ke negeri Midian dan bertemu dengan Zipporah (Maria Valverde) dan Jethro (Kevork Malikyan) dan menjadi penggembala ternak, yang pada akhirnya menikahi Zipporah dan memiliki seorang putra. Di tempat itulah Moses menerima pencerahan yang disampaikan oleh utusan Tuhan yang bernama Malak (Isaac Andrews) dimana Moses harus menyelamatkan bangsa Ibrani dari siksaan perbudakan oleh Mesir pimpinan Firaun. Perjuangan berat pun dilakukan oleh Moses, dengan bantuan Nun (Ben Kingsley) dan Aaron (Andrew Tarbet), Moses memimpin bangsa Ibrani untuk melakukan perpindahan secara besar-besaran (eksodus) dengan menyeberang Laut Merah. Firaun yang  tidak terima akan hal tersebut segera memburu Moses dan bangsa Ibrani untuk dihancurkan.


Review Gue :

Disebut dengan inspirasi dari Bible, Ridley Scott tidak dengan 'setia' bercerita tentang perjalanan hidup Moses sesuai dengan apa yang dicantumkan di bible. Terdapat beberapa adaptasi yang mendapat kritikan tajam dari pemerhati agama dan dianggap sebagai melenceng dari Bible sesungguhnya. Ditambah dengan pernyataan Christian Bale yang dianggap cukup kontroversial sehingga membuat film in mendapat seruan boikot di beberapa tempat. 

Namun bukan Ridley Scott namanya jika tidak memiliki argumen yang 'menantang' sehingga bagaimanapun kontroversialnya film tersebut, tetaplah masuk dalam jajaran Box Office, tentunya karena terdapat pesona Christian Bale dan Ridley Scott yang telah dianggap sahih dalam membuat film kolosal. 

Tidak semegah dan setajam Kingdom of Heaven, mungkin akan dibuat semegah Gladiator, namun film ini lebih banyak kesunyian yang berisi 'dialog-dialog keraguan' dari Moses tentang tugasnya sehingga terkesan berlarut-larut dengan keraguannya. Memang ciri Ridley Scott dan Chernin adalah menyisipkan unsur kemanusiaan yang kental dalam setiap filmnya, namun untuk film kolosal seperti ini, yang diharapkan penonton adalah gedoran pertempuran dan spesial efek yang membahana seperti pada Kingdom of Heaven dan Gladiator. Mungkin juga memang Ridley masih dalam masa pemulihan setelah kehilangan sudara kandungnya yang tewas (Tony Scott) sehingga gairahnya dalam membesut film kolosal menjadi agak 'sunyi'.  John Turturro sebagai Seti I memanfaatkan momen singkatnya untuk tetap tampil bagus, sayangnya tidak diikuti oleh Ben Kingsley yang pernah 'menohok' di Iron Man 3. Sigourney Weaver malah terkesan sebagai tempelan belaka karena tidak diberikan kesempatan banyak.

Film ini masih Christian Bale one man show karena Joel Edgerton pun dibuat terlalu manusiawi sehingga Firaun versi Ridley Scott lebih dimaklumi sebagai ayah murung yang tersakiti akibat kematian putra semata wayangnya daripada tiran yang menyiksa bangsa Ibrani sebagai budak.

Film ini gue rating 3 bintang dari 5 bintang...

Keep Rolling... Selamat Menikmati... Have a Great Watch...!!!

Kamis, 18 Desember 2014

Pendekar Tongkat Emas

Jika Para Pendekar Film Turun Gunung







Karya Anak Bangsa garapan sutradara Ifa Isfansyah, Produser Mira Lesmana dan Riri Riza, Produksi dan Distributor oleh Miles Productions. Bujet film ini sekitar Rp. 25 Milyar.

Sinopsis Gue :

Cempaka (Christine Hakim) Pendekar Wanita yang disegani di dunia persilatan telah mundur dari dunia persilatan dan mewariskan ilmunya kepada 4 anak didiknya yang sebagian adalah anak-anak dari musuh yang dimusnahkan oleh Cempaka. Adalah Biru (Reza Rahadian), Gerhana (Tara Basro), Angin (Aria Kusumah) dan Dara (Eva Celia). Cempaka yang merasa bahwa saatnya hidupnya sudah mendekati akhir, bermaksud menyerahkan jurus pamungkas yang bernama Tongkat Emas Membelah Bumi beserta senjata Tongkat Emasnya yang legendaris. 

Diluar dugaan, Tongkat Emas diwariskan kepada tokoh yang dianggap paling lemah sehingga terjadi kecemburuan terhadap pemilihan Cempaka tersebut. Terjadilah pengkhianatan, penikaman dari belakang dan fitnah habis-habisan yang dilakukan oleh pihak yang tidak terima akan keputusan Cempaka yang juga berakibat buruk pada dunia persilatan dan kezaliman merajalela. Harapan terakhir ada pada Pendekar Harimau Putih yang dapat membuat suasana dunia persilatan menjadi stabil kembali.


Review Gue  :

Awalnya nuansa skeptis menyelubungi hati tentang film ini. Produser, Sutradara, Penulis Naskah dan Pemerannya adalah 'pendekar' dunia drama. Mutu mereka dalam penggarapan film drama tidak perlu diragukan, tapi film laga silat ? Benar-benar meragukan... Sampai saat ini sutradara yang dianggap 'mpu' dalam menggarap film silat slash kolosal hanya disandang oleh Imam Tantowi. Menggarap film silat di layar lebar itu bukan hal main-main lho...

Dan GUE SALAH...!! Dari menit awal mata sudah dibelai dengan keindahan lansekap Sumba, Nusa Tenggara Timur dengan savana yang berlekuk liku dengan indahnya.  Dan itu belum selesai, Christine Hakim yang bertutur pelan membawakan narasi, memotong cerita dengan kelebatan-kelebatan jurus silat para anak didiknya dengan koreografi yang indah.  Cerita yang mengalir linear dan sederhana dipoles dengan keindahan panorama Sumba, koreografi perkelahian yang indah dan 'pendekar' layar lebar yang turun gunung meramaikan 'dunia persilatan'. Nampak jelas skenario khusus cerita tentang pesan moral diolah oleh Jujur Prananto, sementara filosofi silat dan petatah petitih dunia persilatan digagas oleh Seno Gumira Ajidarma, keduanya adalah 'pendekar' dalam dunia penulisan. Koreografi silat pun ditangani oleh Xinxin Xiong yang sering menjadi penata laga di film Hongkong dan juga sebagai pemeran pengganti dari Jet Li.  Belum cukup disitu, Pemeran utama digembleng selama 3 bulan hanya untuk persiapan pembentukan fisik dan kelenturan pada saat syuting nanti, karena menurut klaim, semua adegan perkelahian dan aksi laga dilakukan semua tanpa menggunakan peran pengganti (Stuntman), termasuk Christine Hakim dan Whani Darmawan...

Christine Hakim masih terasa kuat 'wibawa'nya sebagai aktris legenda. bahkan Eva Celia yang agak diragukan masuk sebagai deretan peran utama, mampu membuktikan bahwa ia bekerja keras untuk film ini. Scene stealer ada pada Aria Kusumah yang berperan sebagai Angin, pendekar paling kecil yang irit bicara, penampilan silatnya bahkan lebih 'indah' daripada Noah Ringer di Avatar The Last Airbender. Hiperbolik ? Tidak ! Tara Basro akan lebih 'dibenci' jika diberikan kesempatan lebih bereksploitasi di sisi antagonisnya. Nicholas Saputra masih terlalu asyik dengan karakter 'cool' nya. Slamet Raharjo tidak banyak diberikan porsi, mungkin jika iya, malah bisa bertempur dengan Cempaka... Adapula cameo kelas watak seperti Whani Darmawan yang ikut berjumpalitan beradu otot, dan Landung Simatupang yang muncul sejenak. Tak lupa Darius Sinathrya dan Prisia Nasution yang muncul sebagai Cempaka dan Harimau Putih muda. Apada akhirnya, aura terkuat masih dipegang oleh Reza Rahadian. Suka atau tidak, peran antagonis yang dipegang Reza  membuat karakter Biru menjadi peran jahat yang ditakuti.

Kalaupun bisa disebut kekurangan adalah tempo yang menurun di tengah film sehingga berjalan lambat, walaupun tertolong dengan lansekap indah (lagi), kemudian perkampungan pengungsi yang terdapat di delta sungai yang bentuknya mirip wigwam, tenda suku indian, jadi terasa agak asing. Untungnya semua terbayar dengan akting para pemainnya dan juga scoring musik yang tepat oleh Erwin Gutawa. Jadi terbayarlah sudah...

Diharapkan film merupakan kebangkitan kedua film indonesia, khususnya film silat klasik sehingga akan ada film-film dengan kualitas serupa tanpa perlu risih dengan para 'serigala-serigala' muda yang mengaum di layar kaca...

Film ini gue rating 4,5 dari 5 bintang ...

Keep Rolling... Selamat Menikmati... Have a Great Watch...!!! 




Selasa, 16 Desember 2014

Supernova

Semantik yang Berhamburan






Merupakan film karya anak bangsa dengan sutradara Rizal Mantovani diadaptasi dari Novel dengan judul sama karya Dewi 'Dee' Lestari. Produksi Soraya Intercine Films yang pernah membuat karya 5 cm dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck  dengan produser Ram Soraya dan Sunil Soraya.


Sinopsis Gue :

Reuben (Arifin Putra) bertemu dengan Dimas (Hamish Daud) di Washington DC dan melanjutkan pertemuan mereka di sebuah pesta. Dari situlah terbentuk komitmen sepuluh tahun bahwa kemudian mereka akan menelurkan karya cerita yang akan mengguncang. Dari komitmen itu maka disusunlah suatu kisah tentang Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh. Sementara Supernova adalah Icon Controller kehidupan alter ketiga tokoh tersebut.

Jadilah ksatria yang berwujud Fere (Herjunot Ali) seorang eksekutif muda sukses luar biasa yang berusaha untuk diliput langsung wawancaranya oleh wapemred sebuah majalah eksklusif bernama Rana (Raline Shah).  Fere yang selama ini nampak dingin dengan kehidupan cintanya mulai goyah saat bertemu dengan Rana yang ternyata telah menikah dengan seorang pengusaha sukses dan baik hati bernama Arwin (Fedi Nuril). Ternyata goyahnya hati juga dirasakan oleh Rana sehingga terjadilah suatu perselingkuhan diantara mereka. 

Adapun Bintang Jatuh hadir berwujud Diva (Paula Verhoeven), seorang model kelas atas yang juga berprofesi sebagai wanita panggilan kelas tinggi yang hanya menerima 'tamu' dengan kondisi tertentu yang pada akhirnya terungkap siapa Diva sebenarnya.

Fere, Rana dan Arwin sama-sama 'berkonsultasi' dengan suatu sosok bernama Supernova yang mampu menjawab semua permasalahan personal mereka dengan filosofis via internet. Perselingkuhan yang begitu dinikmati oleh Rana dengan Fere membuat suatu konsekuensi bahwa Rana harus memilih salah satu diantara mereka. Dan Supernova pun dilibatkan untuk pengambilan keputusan tersebut yang ternyata bahwa Supernova menjadi sistem yang merasuk ke dalam semua aspek dalam kehidupan manusia.


Review Gue :

Ada kalanya suatu karya sastra postmodernisme sebaiknya tetap dibiarkan menjadi karya sastra tertulis saja.  Karya Dewi 'Dee' Lestari ini termasuk fenomenal di awal kehadiran novelnya. Banyaknya petatah petitih filosofis tidak membuat penggemar novel tersebut berkerenyit dan menjauhi, buktinya 2 karya yang merupakan lanjutan dari trilogi Supernova tersebut tetap ditunggu  penggemarnya.  

Penerapan karya 'sastra posmo' yang dituangkan dalam film layar lebar sangat diapresiasi untuk lebih 'memasyarakatkan' karya tersebut. Namun akan lebih bagus jika dilakukan adaptasi bebas tanpa terpaku dengan pakem yang ada dalam literasi karya tersebut.  Rizal Mantovani telah berupaya maksimal untuk menuangkan karya tulisan Dewi 'Dee' Lestari menjadi guratan dilayar perak. Ada dua poin utama yang menjadi nilai lebih dalam film ini : Score Musik dan Sinematografi yang meliuk cukup indah. 

Kepadatan karya Dee tersebut rupanya tertuang habis di film ini sehingga yang terjadi adalah saling bersahut semantik yang berkepanjangan. Indah dan puitis memang, namun tidak semua hal tersebut bisa dinikmati oleh penonton kita yang lebih memilih karya yang mudah diterima dalam sisi olah kata bahasa. 

Sedikit mengganjal adalah nuansa LGBT yang cukup verbal antara Reuben dan Dimas yang ditampilkan hampir apa adanya. Secara sinematis, tidak ada salahnya memang, namun secara normatif memang  risih melihat kehangatan pasangan sejenis yang hidup bersama sepanjang 10 tahun dan mengucapkan anniversary dengan kecupan mesra. Mungkin Rizal terinspirasi dengan Brokeback Mountain sehingga menggambarkan hubungan tersebut cukup jelas. Seandainya Rizal Mantovani membuat situasi mereka selembut film Philadelphia ataupun Normal Heart, tentunya akan lebih bagus hasilnya. Cerita malah mengalir lebih indah pada hubungan segitiga Fere-Rana-Arwin. Sayang Diva slash Supernova masih sangat terbata-bata. 

Pusat akting pada akhirnya ada pada Herjunot Ali. Pesonanya menguasai film hampir secara keseluruhan. Fedi Nuril masih bermain flat, mungkin karena posisinya sebagai suami yang pasrah, Raline Shah cukup mampu mengimbangi Herjunot walaupun masih dibawah 5 cm.
 
Bagaimanapun, karya Dee memang harus bisa diterjemahkan dengan cara bebas dan avant garde sehingga hamburan kata puitis filosofis dapat diserap secara maksimal oleh penonton. 

Film ini gue rating 3 dari 5 bintang...

Keep Rolling... Selamat Menikmati... Have a Great Watch...!!! 

Automata

Saat Robot memiliki Keinginan



Merupakan film fiksi ilmiah karya sutradara Gabe Ibanez produksi Nu Boyana-Green Moon Espana dengan distribusi oleh Millenium Entertainment. Durasi 110 Menit dengan bujet USD 15 juta.


Sinopsis Gue :

Tahun 2044 gempuran sinar matahari menyebabkan bumi terpapar radioaktif dan populasi manusia menyusut tajam. Untuk membantu pekerjaan manusia di lingkungan yang terpapar radioaktif, diciptakan robot untuk membantu manusia yang disebut sebagai 'pilgrim'. Pilgrim memiliki dua hukum protokol utama yaitu menjaga manusia dan dilarang memodifikasi diri.  Suatu hari terdapat laporan bahwa ada sebuah robot yang nampak 'hidup' sehingga harus dimusnahkan. Jacq Vaucan (Antonio Banderas) seorang checker klaim asuransi robot menemukan suatu keanehan pada perilaku tersebut. Terlebih Jacq sendiri menemukan bahwa ada robot yang ketahuan mencuri spare part peralatan pabrik. Jacq menyelidiki lebih jauh bersama Wallace (Dylan McDermott) seorang polisi yang menginvestigasi keleinan robot tersebut. Pertemuan dengan robot pelacur bernama Cleo semakin membuat Jacq penasaran, yang membawanya bertemu dengan sang 'clocksmith' yaitu Dr. Dupree (Melanie Griffith).

Ternyata memang terjadi suatu perubahan pada robot tersebut yang membuat mereka ingin membuat hidup baru. Hal ini membuat ROC, perusahaan pengelola robot tersebut memutuskan untuk memusnahkan robot tersebut dan juga melenyapkan Jcq yang dianggap akan membuat panik masyarakat jika mengetahui bahwa robot memiliki keinginan. Maka dimulailah pengejaran yang dilakukan pihak ROC agar robot-robot tersebut dapat dimusnahkan dan Jacq pun bisa dibungkam, dengan korban yang tidak sedikit.


Review Gue :

Film Post Apocalyptic ini sebenarnya lebih untuk dikonsumsi sebagai film festival. Tidak ada hal yang baru dalam penceritaan karena ide tentang 'robot yang hidup' telah lebih dulu dipopulerkan oleh film I Robot karya Alec Proyas dengan bintang Will Smith dan Bridget Moynahan tahun 2004. 

Jangan berharap karena ini tentang robot, maka intensitas aksi laga diharapkan penuh dengan pertempuran dan ledakan ala Terminator. Film ini tentang drama eksistensi 'makhluk' ciptaan manusia yang ingin memiliki jati diri. Beberapa Efek Visualnya memang bagus untuk kategori film festival dengan produser minor, namun cerita yang bergerak lamban dan cenderung 'sunyi' memang hanya bisa dinikmati untuk yang 'serius' terhadap kehidupan robot.

Antonio Banderas tidak sehidup saat berperan dalam The Expendables 3 sehingga menambah kesan datar. Juga ekspresi para robot yang murni bersuara mesin dan berniat untuk hidup tapi tidak cukup cepat mengantisipasi suatu kejadian 'serangan berbahaya'. Pada akhirnya Automata hanya cukup dilihat sebagai film peserta festival dengan keunggulan di Visual Efek belaka.


Film ini gue rating 2,5 dari 5 bintang...

Keep Rolling... Selamat Menikmati... Have a Great Watch...!!!